Sheila & Bayu (Bagian 1)

MUKADIMAH: Jakarta sedang cukup bersahabat hari itu. Cuaca cerah, jalanan pun tak macet berlebihan. Bak sengaja memberi kesempatan bagi saya untuk bisa segera bersua dengan Bayu, sobat saya sedari masa kuliah di ITB. Sudah cukup lama kami tak bertemu, lantaran setahun belakangan ia merantau ke Inggris untuk melanjutkan studi. Saat mendengar kabar bahwa ia baru saja pulang ke Indonesia, diputuskanlah agar kami bisa bertemu dan bertukar kabar. Sengaja saya minta dia untuk mengajak pula Sheila, istrinya, agar bisa turut serta untuk berbagi cerita. Saya akan jadikan kisah mereka sebagai tanda resmi mulainya proyek #rasabermula, pun sebagai hadiah kepulangan bagi sang sahabat.

BASKET

“Saya baru ngeh waktu Sheila ikutan basket himpunan. Mulai merhatiin karena baru tahu Sheila lumayan jago basketnya.”, kata Bayu membuka ceritanya sore itu. Kuliah di jurusan yang sama, namun beda angkatan, membikin pertemuan mereka hanya banyak terjadi di klub basket himpunan. Sheila sendiri mengaku kalau awalnya mengenal Bayu karena sosoknya yang terlihat cukup menonjol sebagai aktivis kampus. “Sempat juga menaruh sedikit  perhatian karena Bayu dianggap sebagai salah satu senior favorit semasa OSPEK. Tapi baru ada perhatian khusus saat pernah ada kelas bareng di satu mata kuliah gara-gara kelasnya digabung.”, ujar Sheila sambil tersenyum.

Yang namanya perasaan memang tak bisa dibohongi. Lama-kelamaan ada sesuatu yang mulai menghinggapi hati Bayu. Saat itu sedang masanya kegiatan wisuda di kampus. “Di situ saya bisa melihat sisi lainnya Sheila dan karenanya mulai jadi penasaran.”, ungkap Bayu. Upaya membuka jalan komunikasi pun mulai dilancarkan, iseng-iseng ia coba meng-SMS Sheila. Apa dinyana, responnya tak semulus yang dikira. “Awalnya Sheila nggak ngeh karena yang namanya Bayu di himpunan ada banyak, jadi harus dijelasin dulu. Terus coba ngajak jalan berapa kali tapi Sheila nggak bisa terus karena lagi sibuk di unit.”, kata Bayu sambil mengaku bahwa ia sempat merasa putus asa karena usahanya mengajak Sheila tak kunjung berhasil. Putus asa itu pun berakhir keputusan untuk sedikit menjaga jarak dari sang target. Walaupun ia juga mengaku masih menunggu momen yang tepat untuk kembali melancarkan pergerakan.

KEMAH KERJA

“Bayu itu terhitung pasif. Kadang ada kabarnya kadang hilang.”, cerita Sheila saat mengenang awal-awal masa pendekatan. Ada saat dimana ia merasa sebaiknya Bayu dibiarkan saja berlalu, tapi batal karena yang ditunggu muncul kembali. Momen perubahan sikap dirasakan Sheila saat ia harus mengikuti kegiatan Kemah Kerja yang mengharuskannya untuk tinggal di daerah tanpa sinyal, yang otomatis membuat komunikasi bisa terputus sama sekali selama dua minggu. Sheila mulai merasakan ada yang berbeda dari Bayu. “Baru mulai ngerasa Bayu benar-benar melakukan pendekatan intens itu setelah Kemah Kerja selesai. Kerasa banget ada pergerakan tiba-tiba.”. Continue reading “Sheila & Bayu (Bagian 1)”

Advertisements