Sheila & Bayu (Bagian 2 – Habis)

SEBELUMNYA: Setelah lulus, Sheila kemudian diterima untuk bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta. Mestinya jarak sudah bukan jadi jurang pemisah lagi. Tapi rupanya hubungan jarak jauh mereka masih belum berakhir.

PERUBAHAN RENCANA

Saat itu akhir tahun 2014. Atas beberapa pertimbangan, Bayu memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dan memilih untuk melanjutkan studi. Ia kemudian kembali ke Bandung untuk mulai mempersiapkan diri demi mengejar impiannya tersebut, salah satunya fokus mengejar beasiswa. Dimulailah kembali sebuah hubungan jarak jauh, di antara kota yang sama namun dengan posisi yang terbalik.

Keputusan untuk melanjutkan studi tentu berdampak pada banyak hal dalam hubungan mereka, namun yang paling utama adalah soal rencana menikah. Sebagai pasangan yang sudah sama-sama yakin, tentu pernikahan sudah masuk sebagai sebuah rencana besar yang ingin diwujudkan. “Sebenernya dulu udah ada rencana, tapi masih ngawang. Kalo seperti ini kita berlanjut, mau kapan sih? Waktu itu rencananya saat usia kami 26 dan 25.”, ujar Bayu. Lanjutnya, “Tapi kemudian karena ada rencana studi, sudah ketauan juga bakal ada jeda setahun. Jadi dulu rencana dibawa ke tahap seriusnya sepulang dari studi.”. Di titik ini Bayu sempat mengalami kebingungan untuk melakukan penyusunan ulang rencana. Beruntunglah ia mendapatkan petunjuk lewat orangtuanya.

“Ibu saya menanyakan kenapa saya tidak menikah lebih dulu? Saat itu pertimbangan saya masih banyak, seperti belum mapan, ekonomi belum stabil.”, ungkap Bayu. Sebuah kegelisahan yang wajar dirasakan oleh manusia yang baru memasuki masa dewasa. “Tapi kemudian prinsipnya dibalikin sama orangtua. Menikahlah, maka akan dimapankan dan distabilkan ekonominya.”, tuturnya melanjutkan. Dan pada momen itulah, Bayu kembali yakin akan kemampuan dirinya.

“Saat itu saya berpikir bukan ke depan, tapi untuk saat ini. Masa depan tidak akan pernah tersentuh dengan diri kita yang sekarang. Saya menanyakan ke diri saya yang sekarang dan merasa sanggup secara mental untuk menikahi Sheila. Saya tidak ingin terlalu lama LDR dengan status yang masih gantung.”, kata Bayu. Tambahnya, “Saya ingin tumbuh dan berkembang bersama dari kondisi yang belum mapan, sehingga kita bisa menghargai satu sama lain. Menikah dan kemudian tumbuh bersama pasti berbeda dengan menikah dalam keadaan sudah mapan. Justru seperti itu malah si calon tidak melihat bagaimana perjuangannya hingga menjadi mapan, namun kalo mapan bersama kita akan saling tahu dan saling menopang.”. Dari sana muncullah sebuah nazar untuk menikahi sang kekasih bila ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi.

Suatu malam di bulan Agustus, dua bulan menjelang keberangkatan ke Inggris, pergilah Bayu menemui Sheila untuk mengutarakan isi pikirannya serta membahas perubahan rencana tersebut. Sheila jelas kaget. “Perubahan rencananya betul-betul mendadak. Waktu hanya tinggal dua bulan. Sedangkan semua wanita pasti punya impian pernikahan seperti apa, karena ingin merasakan jadi ratu sehari.”, cerita Sheila. Terlebih karena ia tahu soal nazar yang diikrarkan oleh Bayu. “Pengumuman Bayu keterima beasiswa itu sekitar tiga hari kemudian dari saat Bayu bilang ada perubahan rencana. Ya dalam tiga hari itu dag-dig-dug cemas juga, tapi ya pengen juga nikah, bisa nggak sih persiapan dua bulan itu.”, tukasnya.

2016-10-01-04-40-10-1
“Perubahan rencana yang mendadak bikin benar-benar cemas.”

Waktu yang terbatas memang jadi pertimbangan utama Sheila untuk menerima ajakan Bayu. Saat itu Bayu berusaha meyakinkan bahwa bukan kemasan acara yang harus diutamakan, melainkan kehidupan setelah sah menjadi pasangan suami-istri. “Seandainya perlu, acara seremonial bisa ditunda setelah pulang studi. Kalo mau kita akad aja, yang sakralnya dulu.”, tegas Bayu saat itu. Sheila kemudian memutuskan untuk membicarakan hal ini dengan orangtuanya. “Mereka sesungguhnya punya keinginan pernikahan anaknya seperti apa. Mereka pun punya teman dan saudara yg mau dibagi kebahagiaannya. Akhirnya karena ada pertimbangan lain dari orangtua diputuskan untuk melakukan apa yang bisa dilakukan dalam waktu terbatas semaksimal mungkin.”, kata Sheila mengulang keputusannya saat itu.

Kini tibalah saat bagi Bayu untuk menyatakan niatnya meminang Sheila, langsung ke orangtuanya. Bayu bercerita saat itu ia benar-benar merasa tegang. Beruntung Sheila sudah menceritakan niat Bayu yang mengajaknya untuk menikah serta rencana mereka berdua di masa mendatang, sehingga kata setuju dari orangtua Sheila bisa didapat dengan lebih mudah. “Saat itu saya juga menyampaikan rencana saya bila tidak memungkinkan saya bersedia hanya dilakukan akad saja. Nanti resepsi bisa habis pulang studi.”, ujar Bayu. “Tapi saat itu ayah Sheila mengatakan bahwa pihak Sheila akan berusaha untuk menyelenggarakan resepsi. Sekalipun sederhana tapi pernikahan itu sebaiknya ada saksi. Mengundang tetangga dan keluarga itu ditujukan sebagai saksi untuk menghindari fitnah. Akhirnya di situ saya setuju.”, tegas Bayu. Tanggal pernikahan pun ditentukan, 5 September 2015.

PERJANJIAN

Pasca lamaran, waktu tinggal menyisakan satu bulan sepuluh hari hingga tanggal pernikahan yang direncanakan. Keduanya mengakui bahwa persiapan pernikahan dengan waktu sangat sempit menjadi sebuah tantangan besar. “Kami sama-sama anak pertama dan semacam cucu pertama, sehingga masih belum ada referensi untuk masalah persiapan pernikahan.”, kata Sheila menambahkan. Karena Sheila harus bekerja di Jakarta sepanjang weekday, otomatis segala urusan persiapan di Bandung ditangani oleh Bayu dan orangtua. Baru saat akhir pekan tiba Sheila bisa ikut turun tangan secara maksimal untuk menyiapkan segala kebutuhan acara. Sempat kelimpungan sebab tidak adanya referensi ditambah waktu yang semakin sempit, Sheila berinisiatif untuk meminta bantuan dari teman-temannya di unit saat kuliah. “Alhamdulillah mereka menyetujui untuk membantu.”, syukur Sheila. Kesulitan terbesar dari mepetnya masa persiapan adalah betapa sulitnya mendapatkan venue untuk resepsi. Sheila bercerita bahwa awalnya pernikahan akan dilangsungkan dengan konsep pesta kebun di area Masjid Salman ITB. “Tapi akhirnya batal karena khawatir cuaca tidak mendukung.”, akunya. Diputuskanlah untuk fokus mencari gedung, yang perjuangannya dirasa cukup berat lantaran gedung-gedung yang mereka incar sudah tidak tersedia untuk tanggal pernikahan mereka.  Beruntung akhirnya mereka berhasil mendapatkan satu lokasi yang bisa digunakan, Gedung Bio Farma, dan langsung tanpa pikir panjang mereka ambil. Keperluan-keperluan teknis lainnya seperti vendor dapat diatasi berkat bantuan dari teman-teman dan keluarga. Semua proses persiapan pun akhirnya berjalan dengan baik, dan tibalah hari yang dinanti.

Tepat pada tanggal  5 September 2015, janji suci pun diikrarkan.

Sheila dan Bayu resmi menjadi pasangan suami-istri.

artboard-1
Cincin pernikahan yang menjadi bukti pengikat bersatunya jalan hidup mereka

Dua minggu pasca pernikahan, Bayu harus berangkat ke Inggris. Sayangnya Sheila tidak bisa mendampingi sang suami karena urusan pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan. Hubungan jarak jauh harus kembali dimulai, dengan tingkat baru: Long Distance Marriage.. Sekalipun harus rela meninggalkan sang istri, ada sebuah kelegaan tersendiri bagi Bayu. “Menikah itu saling menghapus rasa insecure, status kami sudah jelas. Tidak akan ada yang mendekati Sheila di kantor, begitu pun saya tidak akan mendekati yang lain saat di Inggris.”, ujarnya.

“Sebenarnya sisi positif dari hubungan jarak jauh adalah bertumpuknya rasa rindu, yang ketika nantinya dilampiaskan akan terasa benar-benar spesial.”, tegas Sheila. Ia pun bercerita bagaimana rasanya menjalani hubungan beda benua ini. “Yang dibilang orang kangen itu menyiksa itu memang benar, apalagi karena adanya perbedaan zona waktu. Awalnya sangat terasa. Saya pagi kerja, nanti siang pas break bisa menghubungi, ternyata disana masih pagi dan dia baru bangun dilanjut kuliah. Jadi ketemu waktunya itu hanya saat malam waktu sana dan saat subuh di Indonesia, paling hanya dua kali dalam 24 jam kita bisa berkabar.”

Bayu pun bercerita bagaimana ia menjalani hubungan yang penuh tantangan ini. “Alhamdulillah teknologi sudah maju. Beruntung ada Skype.”, kenangnya. Awalnya Bayu berencana untuk tidak pulang sama sekali selama masa studinya. Tambahnya, “Waktu saya ceritakan rencana saya, sambil matanya berkaca-kaca Sheila bilang setuju.”. Saat akhirnya rencana tersebut dijalankan, justru akhirnya Bayu yang merasa tidak sanggup. Diputuskanlah untuk pulang demi melampiaskan rasa rindu yang makin tak tertahan pada akhir term 1. “Saya menggagalkan rencana  saya sendiri. Menjaga keharmonisan hubungan kami jauh lebih penting dibandingkan memusingkan harga tiket pesawat Indonesia-Inggris.”, tegasnya. Pun demikian disaat Bayu tidak bisa kembali ke Indonesia kala term 2 studinya, Sheila lah yang memutuskan untuk pergi menyusul ke Inggris, hingga dua kali, untuk melepas rindu. “Harga tiket kalah dari kebahagiaan yang kami rasakan.”, cerita mereka. “Saat sudah menikah rasa ingin barengnya jauh lebih kuat dibanding saat pacaran. Saat pacaran itu seperti kurang terikat, jadi sekedar dijalani saja, bila tidak kuat kuat berarti tidak cocok. Tapi karena kami sudah terikat, punya tanggung jawab, jadi justru lebih terasa kangen.”. 

PETUAH

okehhh
“Carilah pasangan yang mau diajak susah dan berjuang bersama.”

“Carilah pasangan yang mau diajak susah dan berjuang bersama.”, pesan mereka. Berkaca pada hubungan mereka yang didominasi oleh perpisahan secara fisik akibat jarak yang sulit dijangkau, hal tersebut malah terasa semakin menguatkan mereka. “Yang jelas positifnya adalah hubungan jarak jauh itu menempa kita, secara tidak sadar kita jadi jauh lebih kuat, dewasa, dan semakin mengenal diri sendiri.”. (TAMAT)

(CATATAN KAKI: Saat ini keduanya tengah berjuang membangun keluarga kecil mereka di bilangan Jakarta. Saat ditanya soal rencana momongan, mereka sepakat bahwa saat ini fokus mereka adalah mencari kestabilan. Kehadiran anak akan mulai diupayakan saat titik siap sudah tercapai.)  

Teks: Pandu Wicaksono / Foto: Rizky Adryatma P.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s