Anggi & Yasir (Bagian 2 – Habis)

SEBELUMNYA: Belum sampai sehari resmi menjadi sepasang kekasih, ujian bernama hubungan jarak jauh sudah menghadang mereka. Komunikasi yang sulit sempat membuat hubungan keduanya merenggang. Kejenuhan akibat hubungan yang tak berkembang jadi penyebabnya. Kata putus bahkan sempat dilanturkan. Beruntung waktu jualah yang berhasil menyatukan mereka kembali.

PERTANYAAN

Tak semua ajakan menikah ditanyakan dengan penuh keromantisan. Pun momen yang dialami pasangan ini demikian. Lebih pada niatan tanpa rencana. Mungkin karena sudah saking cintanya.

Saat itu Februari 2015, Anggi sudah back for good ke Indonesia. Pertemuan makan siang dengan Yasir adalah kala pertama ajakan itu disampaikan. “Kamu mau nikah nggak?”, tanya Yasir waktu itu; memecah keheningan. “Kalau misalnya kita ke jenjang yang lebih serius, kamu mau nggak?”, ulangnya. Yasir mengaku pertanyaan itu benar-benar buah dari pikiran sekelebat yang melintas di kepalanya. “Tiba-tiba aja pengen nanya”, bilangnya.

“Hah? Ya mau.”, jawab Anggi. Seperti mengiyakan, tapi tak ada perbincangan lebih lanjut setelahnya. Yasir anggap itu sebuah pertanda keseriusan, yang menjawab pula kemantapan yang muncul tiba-tiba dalam hatinya. “Kalo orang merasa nikah itu butuh persiapan bla bla bla, kalo gue enggak tuh. Ngerasanya cuma kayak keyakinan aja. Tiba-tiba gue ngerasa harus nikahin dia.”, cerita Yasir.

Dan pada bulan Maret, pada ulang tahun Anggi: pertanyaan itu diulang. Jawaban Anggi hanya singkat, “Oke.”. Tapi langkah menuju jawaban itu, panjang.

Cerita diputar kembali ke bulan Februari, usai pertanyaan kala pertama diajukan. Saat itu Anggi bercerita pada orangtuanya tentang niat Yasir. “Kayaknya Yasir ngajak aku nikah deh, Ma.”, ceritanya. Orangtuanya heran, lantaran anaknya masih berkata “kayaknya”, seakan masih meragu. “Habis itu disuruh shalat istikharah. Kalau dari orangtua gue terserah.”, lanjut Anggi. Bertanyalah Anggi kepada Sang Maha Esa, memohon petunjuk. ”Gue jadi makin yakin. Pas ditanya, ya udah oke.”, yang kemudian disampaikanlah keyakinannya itu pada sang kekasih.

2016-10-09-07-42-50-1
“Tiba-tiba gue ngerasa harus nikahin dia.”

Tutur Yasir, orangtuanya sendiri sempat tidak percaya saat anaknya mengutarakan niatnya untuk menikah. Awalnya malah dianggap bercanda oleh sang ayah. Ibunya pun menyarankan Yasir untuk mencari kemantapan dengan berkomunikasi pada Tuhan. Perbanyak ibadah, shalat istikharah. Keyakinan pun akhirnya didapat. “Kata orang kan abis itu kaya dapet mimpi, tapi kita enggak sih. Cuma tiba-tiba PLEK! Langsung yakin. Ya udah nikah aja.”, ujarnya.

(Shalat istikharah adalah shalat yang dilaksanakan sebagai bentuk permohonan pada Allah SWT untuk diberikan petunjuk untuk memutuskan sesuatu dari beberapa pilihan yang dihadapinya)

Tantangan selanjutnya bagi Yasir: menyampaikan langsung niatnya pada orangtua Anggi.

“Jadi keadaannya waktu itu di rumah Anggi. Kita habis selesai makan, habis itu pindah ke ruang TV.”, cerita Yasir. Kala itu Anggi pun membuka obrolan, “Pa, Yasir mau ngomong.”. Yasir pun langsung kalang kabut, hilang akal entah mau bicara apa. Akhirnya mulailah Yasir berbicara dengan terbata-bata, “Jjjaaadddiii… Oooomm.., aku mau beritikad baik, aku mau nikahin anak Om”.  Anggi ingat betul, saat itu mata papanya mulai berkaca-kaca. Papa Anggi tak langsung menjawab. Beliau terdiam.

“Akhirnya ada anak yang berani buat nyampein.”, beliau akhirnya mulai angkat suara. Lanjutnya, “Dulu aja pas jaman Om, Om datang sama keluarga buat ngomong kayak gini, sedangkan kamu datang sendirian. Kalau Om tiba-tiba usir gimana?”. Hati Yasir pun mencelos. Beruntunglah jawaban dari Papa Anggi pun akhirnya tiba, “Ya udah kalau kamu emang mau serius, ya kita rencanain aja.”.

Jika Yasir bisa melompat saat itu, mungkin ia akan melompat saking girangnya.

PERSIAPAN

Proses menuju hari bahagia pun dimulai. Banyaknya hal yang mesti diurus dalam waktu yang kadangkala terbatas adalah hal yang acapkali jadi sumber perkara yang dirasakan semua pasangan yang hendak menikah. Ditambah ketidakpastian yang terkadang muncul dari pihak yang terlibat. Tak terkecuali dialami oleh Anggi dan Yasir.

Permintaan keluarga yang harus diakomodasi pun jadi salah satu sumber kepusingan mereka. “Keluarga gue rada banyak permintaan gitu, mungkin karena gue anak cewek satu-satunya. Nyokap jadi banyak pengennya.”, ujar Anggi. Ia mencontohkan saat pesanan untuk salah satu vendor yang terpaksa harus dibatalkan akibat permintaan Mamanya yang sangat mendadak, padahal waktu sudah sangat sempit. “Yang nikah siapa, yang semangat banget itu siapa.”, tambahnya menceritakan tentang betapa excited-nya sang Mama menjelang pernikahannya.

Pun penentuan tanggal pernikahan sempat menimbulkan gejolak. “Awalnya itu kita mau 16 Januari 2016, biar 16 – 1 – 16. Tapi mamanya Anggi maunya Minggu. Padahal tanggal 16 itu Sabtu.”, kenang Yasir. Lanjut Anggi, ”Iya, beliau nggak mau Sabtu. Akhirnya kita setuju geser tanggal 17, dan DP gedung pun langsung dibayar.”. Apa dinyana, Mama Anggi kemudian berubah pikiran. “Mama tiba-tiba bilang ‘Kasian juga kalau Minggu, besoknya kerja. Ya udah Sabtu aja.’.”, tambah Anggi.

Processed with VSCO with p4 preset
“Gue jadi sering banget marah sama Yasir. Dia nafas aja salah buat gue.”

Masalah pun muncul, lantaran untuk tanggal 16 Januari gedung sudah kadung terisi. Mau tak mau akhirnya tanggal pernikahan pun digeser ke 23 Januari 2016. Anggi sempat kesal lantaran niatnya untuk menikah di tanggal cantik pun buyar. Tugas Yasir-lah untuk meredakan emosi-emosi negatif yang kadangkala dirasakan oleh sang kekasih. “Gue jadi sering banget marah sama Yasir. Nggak ngerti kenapa, kaya dia salah terus aja. Dia nafas aja salah buat gue.”, aku Anggi sembari tertawa.

Yasir pun berpesan untuk para calon mempelai pria, “Ini wejangan buat para pria: nanti perempuan itu deket menikah akan sangat sensitif. Kalian harus bijak-bijak, jangan mudah marah.”. Perbedaan karakter dasar diakui Yasir jadi salah satu penyebab. “Mungkin karena cewek pusing juga. Dia maunya seperti apa, sedangkan cowok kayak apa aja jadi.”, teorinya.

Dengan total masa persiapan 8 bulan hingga hari-H, segala kebutuhan pun perlahan tapi pasti mulai didapatkan. Intrik-intrik kecil memang masih ditemui, tapi keduanya sepakat bahwa komunikasi lah yang jadi kunci penyelesaian. Waktu pun terus berlalu tanpa terasa.

HARI BAHAGIA

Tibalah hari yang dinanti. 23 Januari 2016. Anggi dan Yasir pun berbagi soal momen ijab kabul mereka. Momen yang bagi semua laki-laki bisa jadi adalah momen paling menegangkan dalam hidup.

“Gue nggak bisa tidur malemnya. Cuma tidur-tidur ayam doang. Berasa kepala mau pecah.”, cerita Yasir saking tegangnya saat itu. Dukung Anggi, “Iya, dia nggak bisa tidur. Padahal aslinya cepet banget tidur.”. “Pokoknya setiap orang pasti mengingatkan jangan begadang H-1 nikah. Tapi nanti cobain sendiri. Rasanya mau merem itu nggak bisa.”, wanti-wanti Yasir.

“Persiapan selama 1 bulan lebih, latihan selama pulang di jalan dari kantor. Kayak pas lagi macet-macet naik motor, gue pake buat ngapalin teks ijab qabul.”, cerita Yasir mengenang masa-masa “pelik”. “Semua buyar saat gue berhadapan langsung sama Papanya Anggi. Karena beliau udah dalam kondisi berkaca-kaca saat bicara.”, kenangnya. Anggi mengakui kalau papanya memang sangat perasa. “Pas gue jawab sempet terbata-bata juga. Alhamdulillah lancar cuma sekali ucap. Dan saksi juga bilang sah semua.”, ucapnya seraya bersyukur. “Gue juga ikut deg-degan sih, doa terus. Soalnya kalau sampe kenapa-kenapa, duh gue nggak tahu deh.”, Anggi ikut menimpali. “Pas denger ada yang bilang sah, gue lega banget.”.

2016-10-09-07-23-33-1
Cincin yang melingkar di jari manis keduanya, penanda bertalinya takdir mereka.

Saat membahagiakan akhirnya tiba. Anggi dan Yasir pun kemudian dipertemukan sebagai pasangan suami istri, untuk pertama kali. Keduanya mengaku kalau saat itu rasanya benar-benar malu. Rasa malunya tapi tak bertahan lama, karena kejadian lucu seusai ijab qabul. Ujar Yasir, ”Kita suka ngomongin hal nggak penting. Jadi pas selesai ijab qabul, biasanya kan ada ceramah lagi. Terus ceramahnya kita omongin, soalnya nggak jelas banget.”. Anggi pun mengamini, “Biasanya ceramah nikah itu bagus. Nah ini malah jorok. Dia ketawa-ketawa sendiri aja, padahal nggak ada yang nganggap itu lucu.”.

Mereka mengakui kalau kegiatan di hari-H sendiri tak lepas dari kejadian-kejadian penuh ketegangan. “Pas kita mau mulai pake gedung, tamu yang sebelumnya belum selesai keluar padahal kita mau masuk. Masalahnya kalau molor kan kasian vendor kita jadi susah semua.”, ungkap Yasir. Anggi punya cerita sendiri. “Waktu itu gue pake Suntiang. Vendornya kayak salah gitu, jadi kaya ada daun dibuntel buat tempat jarum di tusuk, bukan ke kepala, jadi harusnya ganjel di situ.”, ceritanya. “Entah kenapa bisa ada 1 jarum lolos, jadi nusuk ke kepala gue. Jadi 2 jam kaya dtusuk jarum.”, kenang Anggi. Walhasil rasa sakit pun tak bisa ia sembunyikan selama acara. “Salaman pun muka gue jutek banget, udah nggak peduli lagi.”

(Sebagai gambaran, Suntiang adalah hiasan yang dipakai di kepala oleh pengantin wanita untuk acara pernikahan adat Minang. Hiasan ini dikenal karena ukurannya yang besar dan bobotnya yang cukup berat, dan dapat menimbulkan keletihan bagi pemakainya. Biasanya sang mempelai wanita sudah diminta untuk minum obat pereda sakit kepala sejak sebelum acara dimulai.)

PETUAH

“Jodoh itu sudah diatur. Jodoh lo bisa siapa saja, sesuai dengan cara hidup lo masing-masing.”, ucap Yasir. “Di saat kita bisa memantaskan diri, jodoh pasti akan datang sendiri.”, tambahnya. Berkaca pada pengalamannya yang sempat tidak merasa yakin bisa meraih hati Anggi, Yasir berpesan untuk tetaplah yakin dan berusaha. “Selama 4.5 tahun itu ngerasa nggak mungkin bisa dapet dia. Alhamdulillah, jodoh nggak kemana.”

Anggi pun punya pesan tersendiri. “Cewek itu agak nyebelin. Kadang kalau udah punya pacar suka mikir, kalau cowoknya kurang baik, kurang care, nggak perhatian. Maunya dibawain bunga dan hal romantis lainnya.”. Lanjutnya, “Cewek itu kayak cuma mau dapat cowok terbaik, padahal menurut gue harusnya bukan itu.”. “Lo jadi yang terbaik dulu buat itu cowo, nanti dengan sendirinya pasti bakal datang cowok yang terbaik.”, pungkasnya.

“Alhamdulillah Anggi nggak suka bunga, sukanya martabak. Jadi gampang.”, celetuk Yasir seraya mengakhiri pembicaraan kami sore itu.

(CATATAN KAKI: Saat ini Anggi dan Yasir tengah menanti kelahiran anak pertama mereka. Anak yang menurut sang calon ayah adalah hadiah terbaik yang diterima dari sang istri. Mereka berdua berniat untuk merintis bisnis bersama, sembari Yasir berencana untuk melanjutkan studinya.) 

Teks: Pandu Wicaksono / Foto: Rizky Adryatma P.

Advertisements

One thought on “Anggi & Yasir (Bagian 2 – Habis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s