Elok & Ojan (Bagian 1)

MUKADIMAH: Mengenal Elok, saja, tidaklah sama dengan mengenal Elok yang tengah bersama Ojan. Ada energi berbeda yang terpancar, yang bahkan tidak pernah saya rasakan selama kuliah bersama Elok. Energi itu terasa hangat. Sesuatu yang memang hanya ditunjukkan oleh pasangan dengan chemistry luar biasa. Ojan sendiri, saya baru sering bertemu dengannya setahun belakangan ini. Memang tidak banyak komunikasi yang terjadi, tapi beruntung dia adalah tipe orang yang senang bercerita dan berbagi kisah. Didukung dengan energi yang pasangan ini bawa, obrolan kami saat wawancara pun akhirnya banyak diselingi senyum dan tawa. Semoga anda bisa ikut merasakan apa yang saya rasa kala itu.

TERTANTANG

Pertemuan mereka terjadi di kampus BINUS, tahun 2008. Tak ada yang istimewa di pertemuan pertama mereka, terasa biasa saja kata mereka. Sama-sama masih mahasiswa baru, dulu.

“Dulu temen gue yang pertama ngasih tahu sama orang yang namanya Ojan. Gue cuma inget rambut dia masih yang rambut-rambut jamur gitu,” cerita Elok.

Namun, sebiasa-biasanya sebuah pertemuan, selalu ada kesan yang berbekas setelahnya. Ojan yang mulanya biasa pun, jadi mulai menaruh perhatian saat mendengar sebuah rumor menarik. “Denger-denger katanya ini cewek dikejar banyak orang. Ini yang bikin gue tertarik.”

Pergerakan pun mulai dilancarkan oleh Ojan. Komunikasi mulai coba dijalin, dulu pakainya masih chat lewat eBuddy. Padahal, ia tahu kalau saat itu yang sama-sama bergerak tak hanya dia. Banyak saingan.

Elok pun mengisahkan seperti apa jadinya saat itu. Katanya, “Jadi pas dia benerin deketin itu gue emang lagi deket sama orang. Terus dia tahu ada orang yang deketin gue. Soalnya diledek-ledekinnya di depan dia juga.” Tapi Ojan tak ambil pusing, sambil terus mengintai momen yang tepat.

Momen itu pun akhirnya tiba. Hubungan Elok dengan sang rival tak berlanjut. Masuklah Ojan, sembari mencoba membawa warna baru. Awalnya Elok tak memberi respon berlebih, lantaran ia memang menjaga ekspektasi. “Sebelumnya Ojan juga deket sama temen gue. Gue nggak mau kepedean. Jadi gue biasa aja.” Ia tak mau terlalu percaya diri dengan perhatian lebih yang ditunjukkan Ojan, takut akhirnya tak seperti yang diharap.

“Gue waktu deketin dia nggak tau dia suka ama gue apa nggak,” Ojan mencurahkan rasanya masa itu. Apa yang tampak di permukaan memang membuatnya bingung. Tak ada respon positif yang ia cari saat mengajak Elok pergi berdua, entah itu jalan atau menonton. Tak ubahnya seperti berhubungan dengan teman biasa.

dscf1040
“Gue waktu deketin dia nggak tau dia suka ama gue apa nggak.”

Padahal apa yang tampak di permukaan tak sama dengan apa yang dirasa dalam hati. Getaran-getaran itu sesungguhnya ada. Kata Elok, ada desir berbeda yang ia rasakan saat berhubungan dengan Ojan. “Nggak tau, rasanya kalo sama dia lebih excited aja dibanding yang lain. Kayak lebih deg-degan. Beda aja gitu. Kayak lebih seru.” Ojan, yang jelas-jelas adalah pihak yang lebih dahulu menunjukkan ketertarikan, pun merasakan fenomena yang sama. “Gue kalo mau nelpon Elok, mau nanya tugas, itu aja deg-degan. Padahal cuma sebentar doang. Itu seru.” Suatu hal yang bagi Ojan adalah penanda bahwa ia telah memilih orang yang tepat. “Rasa penasaran itu membuat pengen jadi lebih dekat,” tegasnya.

Rupanya, semua gerak-gerik yang ia lakukan tak terdeteksi oleh teman-teman mereka sama sekali. Tak semuanya, memang. Seorang teman mereka, yang memang memposisikan diri jadi perantara, lama-kelamaan gerah melihat hubungan mereka yang penuh misteri dan tak kunjung maju itu. “Jadi si perantara itu greget terus ngasih tahu gue,” aku Elok, “Habis itu sikap gue ke Ojan baru jadi agak beda.”

DI SISI PANTAI

Respon Elok yang akhirnya lebih terbuka padanya, serta keyakinan dirinya akan sosok yang ia kagumi ini, jadi pembulat bagi Ojan. Diputuskan bahwa inilah saatnya untuk menyatakan isi hatinya pada Elok. Disusunlah sebuah rencana istimewa, agar momen ini jadi momen tak terlupa. 21 Maret 2009 dipilih jadi waktu yang tepat untuk melancarkan aksi pernyataan.

“Gue ngajak dia ke tempat makan di Ancol, di Segarra. Habis makan rencananya gue bakal nyatain perasaan gue di pinggir pantai,” rencana Ojan saat itu. Namanya sudah berencana, tentu yang tertanam benar di benak adalah harapan akan nihilnya gangguan. Apa dinyana, sempat muncul beberapa hal yang baginya tak terduga. “Temen gue udah agak-agak bocorin gitu ke Elok. ‘Siap-siap tuh, siap-siap tuh.’ Kesel gw,” ceritanya. “Iya, ada yang bocorin. Tapi gue nggak mau kepedean,” kata Elok, “Nanti jadi nggak seru.”

Pun sempat ada kendala saat sudah tiba di Ancol. Lantaran belum memesan tempat dari sebelumnya, ditambah tempatnya yang ramai, mereka tak langsung kebagian tempat di Segara. Harus menunggu sekitar satu jam, baru lah akhirnya mereka bisa masuk dan makan. Seusai makan, mulai lah Ojan melanjutkan rencananya. Berlanjut ke aksi pernyataan cinta.

Dibawalah Elok olehnya ke pinggir pantai. Diungkapkanlah seluruh isi hatinya, apa yang ia rasakan selama ini. Tentang getaran-getaran yang ia rasakan. Dan diakhiri dengan ajakan untuk menjalani hubungan serius, berdua.

Ia kira prosesnya akan berjalan dengan lancar. Jawaban yang diekspektasikan pun hanya dua: antara ya atau tidak. Nyatanya tak secepat itu.

“Nanti dulu! Kita ngobrol dulu,” bilang Elok kala itu, tak langsung menjawab. Ojan pun langsung bingung. Makin lah ia bingung saat Elok tiba-tiba minta waktu untuk ke toilet. Terpaksa diiyakan, walaupun bayangan momen romantis di otaknya buyar seketika.

SYARAT

“Sebenernya waktu ke toilet gue sambil mikir mau ngomong apa,” kenang Elok. Tercetuslah beberapa pertimbangan yang lalu ia ajukan pada Ojan, utamanya adalah soal kemungkinan hubungan jarak jauh. Saat itu memang Elok baru saja mengikuti tes masuk ITB, yang berarti jika ia diterima otomatis ia harus pindah ke Bandung. Pertanyaan besarnya adalah, siapkah Ojan menjalani hubungan jarak jauh tersebut?

“Waktu itu kita akhirnya lanjut ngobrol di dalam mobil di parkiran,” cerita Ojan. Masalah LDR jadi topik besar, katanya. Tambah Ojan, “Ternyata dia ada kayak syarat-syarat buat jadian tuh gimana. Kalo nanti misalkan putus gimana? Nanti kedepannya gimana?” Elok menegaskan bahwa saat itu ia merasa optimis diterima di ITB, sehingga LDR seakan menjadi sebuah kepastian.  Ojan pun sebetulnya sudah tahu kalau Elok mungkin akan pindah ke Bandung, cetusnya. “Gue nanya makanya seriusan apa enggak, maksudnya kalo nggak serius mending nggak usah. Soalnya pasti jauh, LDR. Kalo nggak serius ntar gini-gini aja,” kata Elok menekankan pertimbangannya saat itu.

dscf1033
“Gue nanya makanya serius apa nggak. Kalo nggak serius ntar gini-gini aja.”

“Tapi dia bilang serius, terus gue nanya misalkan jauh gimana. Pas dia udah oke, meyakinkan diri sendiri kalo mampu. Baru deh gue juga oke,” kisah Elok tentang apa yang akhirnya membuat ia menerima ajakan Ojan.

Resmi lah mereka menjadi pasangan kekasih malam itu.

Setelah perbincangan panjang lebar, karena Elok tak mau buru-buru menjawab.

Setelah Ojan bolak-balik ditelpon orangtuanya, karena tak kunjung pulang.

Setelah takut dicurigai satpam, karena berlama-lama mengobrol berdua di mobil.

MENGAKALI

Saat awalnya tahu kalau Elok bisa jadi akan pindah ke Bandung, sempat Ojan merasa sedih. Akan seperti apa nasib hubungannya yang baru seumur jagung ini. Terlebih saat pengumuman keluar, dan Elok dinyatakan resmi diterima untuk berkuliah di ITB. Makin lah rasa itu menjadi. Tapi teringat akan janjinya di malam mereka mengikat rasa, Ojan coba jalani hubungan jarak jauh ini sepenuh hati.

“Biasanya kita tiap dua minggu ketemu. Dia ke Bandung atau gue ke Jakarta. Cuma emang gue lebih sering ke Jakarta,” cerita Elok. Tatap muka via Skype pun jadi wahana untuk melepas rasa rindu. Untuk menelepon, seringkali malah sulit. Ini lantaran Ojan yang memang susah ditelpon, cetus Elok. “Dia tiap mau ditelpon harus dibilangin dulu kalo bakal ditelpon. Suka lagi nggak bisa soalnya,” kenang Elok tentang sukarnya menghubungi Ojan lewat telepon. Ojan bilang bahwa baginya berbicara dengan sang kekasih adalah sebuah momen intim. Ia menuntut adanya privasi. “Gue nggak mau lagi nelpon mesra-mesra didengar orang lain, nggak enak,” katanya beralasan.

Hubungan mereka tak terasa terus berjalan hingga menginjak tahun ke-7, di tahun 2016 ini. Saat ditanya tentang hal yang benar-benar berkesan bagi mereka selama menjalani hubungan, keduanya punya jawaban yang berbeda. Ojan merasa bahwa masa-masa hubungan jarak jauh yang harus mereka lalui benar-benar meninggalkan kesan mendalam baginya. Bagaimana ia sebisa mungkin menghindari pertikaian yang timbul akibat jarak. Walaupun ada masanya usaha Ojan tak berhasil, lantaran saat itu mereka sudah 3 minggu tak bisa bertemu.

Elok sendiri memilih momen saat Ojan “melamar ala-ala” dirinya sebagai momen paling berkesan.

ALA-ALA

Peribahasa bilang: ada gula ada semut.

Apa alasan Ojan yang membuat ia mantap memilih Elok jadi pendamping hidupnya? Ini jawabannya.

“Itu semua kumpulan dari yang gue jalanin selama 7 tahun. Selama itu gw jalanin hubungan. Pas gue ngeliat si Elok dengan kekurangan gue, Elok masih bisa nahan diri,” kata Ojan, “Nih cewek diam, tapi dia nahan dan dia nggak langsung marah. Kadang dia cerita. Walaupun dia marah dan diam tapi gue tau kalo dia tahan sama kekurangan gue.” Tambahnya, “Dia bisa menutupi kekurangan gue. Nah, untuk apa lagi yang kayak gitu gue lepas?”

dscf0979
“Untuk apa lagi yang kayak gitu gue lepas?”

Hatinya sudah benar-benar yakin saat membulatkan niat untuk melamar sang kekasih. Tak mau momen bersejarah itu berlangsung biasa-biasa saja, diniatkanlah untuk membuat sebuah event spesial. Berembuklah Ojan bersama teman-temannya, mencari konsep terbaik. Temannya mengusulkan sebuah ide yang akhirnya disepakati: melamar di area panahan. Kebetulan pula saat itu Elok memang tengah berkeinginan untuk menjajal olahraga yang sedang digandrungi ini.

Disusunlah rencana dengan konsep yang sudah disetujui. Akan ada 5 papan target yang dipasangi balon. Masing-masing balon akan diisi kata yang akan muncul saat balon pecah terkena panah. Balon berisi kata pertama sampai ketiga akan dipecahkan oleh teman-teman Elok dan Ojan; sementara Ojan bertugas untuk memecahkan balon berisi dua kata terakhir. Untuk memuluskan proses lamaran nanti, disampaikanlah konsep ini pada pengelola area panahan. Dukungan pun diperoleh, Ojan pun diberi area khusus untuk hari-H. “Gue sempet latihan sekitar 3 atau 4 kali sebelum hari H bareng temen-temen,” cerita Ojan, semata demi menghindari adanya kegagalan memecahkan balon saat hari-H.

Hari yang dinanti pun akhirnya tiba.

Untuk menghindari kecurigaan Elok, permainan dibagi menjadi 2 sesi. Sesi pertama hanya diisi permainan casual, yang kemudian disambung oleh istirahat. Saat sesi kedua dimulai, balon-balon sudah terpasang di papan target. “Gue sama Elok pindah ke papan target paling ujung,” ujar Ojan yang memang kebagian tugas memecahkan 2 balon terakhir. Prosesi paling mendebarkan menuju lamaran pun resmi dimulai.

Balon pertama berhasil dipecahkan. Muncul kata: WILL.

Balon kedua berhasil dipecahkan. Muncul kata: YOU.

Balon ketiga berhasil dipecahkan. Muncul kata: MARRY.

Giliran Ojan pun tiba.

Balon keempat berhasil Ojan pecahkan. Muncul kata: ME.

Balon terakhir pun berhasil Ojan pecahkan. Muncul kata: ELOK. Dan sebuah kotak pun nampak.

Ojan pun beranjak, diambilnya kotak tersebut. Lalu ia hampiri Elok, yang saat itu seperti kehabisan kata-kata. Ia pun berlutut dihadapannya, membuka kotak tersebut. Isinya cincin.

Ia lalu bertanya:

“Elok, will you marry me?”

(SELANJUTNYA:  Apa jawaban dari Elok? Bagaimana kelanjutan hubungan mereka pasca lamaran?)

Teks: Pandu Wicaksono / Foto: Rizky Adryatma P.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s