Elok & Ojan (Bagian 2 – Habis)

SEBELUMNYA: Hati Ojan sudah benar-benar yakin saat membulatkan niat untuk melamar sang kekasih. Tak mau momen bersejarah itu berlangsung biasa-biasa saja, diniatkanlah untuk membuat sebuah event spesial. Berembuklah Ojan bersama teman-temannya, mencari konsep terbaik. Temannya mengusulkan sebuah ide yang akhirnya disepakati: melamar di area panahan. Proses menuju lamaran pun kemudian dilangsungkan. Dan tibalah saat diajukannya pertanyaan pamungkas pada Elok. Apa jawaban yang ia berikan?

PERTANYAAN/JAWABAN

“Elok, will you marry me?” tanya Ojan.

Bagi Elok, pertanyaan itu justru adalah sebuah jawaban. Jawaban atas doa yang ia panjatkan pada Tuhan saat tengah melaksanakan Umrah, sebulan sebelum ia dilamar. “Waktu itu pas Umrah kan gua baca doa. Seandainya dia kurang baik buat gua, segerakan kasih petunjuk. Seandainya yang terbaik mohon disegerakan. Ternyata pas gua balik dari Umrah bulan Februari, dia ngelamar ala-alanya Maret. Terjawab doa gua.”

Dan rupanya, petunjuk itu datang dengan cara yang Elok cita-citakan. Cerita Ojan, dari jauh-jauh hari memang Elok sudah meminta untuk dilamar dengan cara yang berbeda. “Dia yang ngomong minta gua ngelamar ala-ala, yang lucu-lucu gitu. Ya udah gua lakuin aja,” katanya. Elok sebenarnya sudah menangkap sinyal-sinyal bahwa ada sesuatu yang akan terjadi. Gara-garanya: tingkah Ojan yang benar-benar memaksanya untuk datang panahan tepat waktu. Cerita Elok, “Dia maksa banget, kita harus datang jam 7 pagi. Gua curiga, gua bilang gua mau telat aja. Tapi dia pokoknya nggak mau telat. Akhirnya gua dateng deh.” Namun, gelagat-gelagat mencurigakan itu tak lantas membuat Elok merasa yakin. “Gua nggak mau terlalu pede, jadi gua diem-diem aja.” Lanjutnya, “Tadinya gua pikir emang ada sesuatu kan. Eh, ternyata main panah beneran.” Dalam hati pun ia akhirnya cuma bisa pasrah. “Ya udah lah.”

Ekspektasi Elok terjawab sudah saat balon-balon target mulai dipecahkan. Saat balon berisi tulisan “WILL” pecah, Elok langsung melirik Ojan. “Eh, dia langsung buang muka. Tegang,” kenangnya. Elok sendiri langsung salah tingkah. Sesungguhnya momen ini adalah momen yang ia nanti, momen yang ia minta, tapi saat dijalani ia jadi malu sendiri.

“Pas ditembak didepan banyak orang sih… Gua seneng, tapi malu. Semua orang liatin gua,” ingat Elok akan apa yang ia rasakan saat itu. Apalagi saat Ojan berlutut dan memberikan cincin padanya. “Pas dikasih cincin, itu gua juga malu,” tambahnya.

Namun, semalu-malunya, tak ada yang bisa mengalahkan rasa bahagia saat doa tulusnya kini dijawab oleh Tuhan. Jawaban Elok untuk Ojan pun tak perlu berpanjang-panjang, tak perlu berlama-lama.

“Mau.”

19 Maret 2016 kini resmi jadi hari terbahagia dalam hubungan mereka.

MOHON IZIN

Barang siapa anak muda yang hendak menikah, tentu harus mendapat restu dari orangtua kedua pihak. Bagi Ojan, perjalanan mencari doa restu ini amat berkesan. Pertama, pastilah ia bertanya pada orangtuanya sendiri. Beruntung, izin tak sulit didapat. Ini karena sang orangtua sudah percaya kalau anaknya bisa memilih pasangan yang terbaik. Yang seru adalah saat Ojan harus meminta restu pada orangtua Elok. Lantaran Elok punya cara sendiri. Cerita Ojan, “Jadi gua harus ngomong ke Elok dulu, habis itu ibunya, dan terakhir baru bapaknya.”

Processed with VSCO with hb2 preset
“Keluarga gua punya cara sendiri buat dimintai restu menikah.”

19 Maret 2016, pagi hari, Ojan melamar Elok di area panahan. Selesai prosesi berlangsung, saat makan bersama, Elok meminta Ojan untuk bicara pada ibunya malam itu juga. Ojan langsung panik, “Gua langsung bingung, hahaha. Deg-degan, siapin mental… Seharian sambil mikir pokoknya.” Malam pun tiba, dan pertemuan pun tiba jua. Ojan bercerita bahwa pagi tadi ia sudah meminta Elok untuk menikahinya, dan ia memohon izin pada sang ibunda untuk memberikan doa restunya. Melihat sang anak yang sudah benar-benar yakin dengan pilihannya, ibunda Elok pun mengamini niat Ojan.

Anaknya sudah. Ibunya sudah. Kini saatnya bertanya pada bapaknya. Yang amat berkesan bagi Ojan adalah karena ia harus menemui sang Ayah sendirian tanpa ditemani Elok. “Yang ini gua bener-bener deg-degan. Soalnya gua harus nyamperin ke Padang,” cerita Ojan. Ia mengaku bahwa meskipun pernah bertemu dengan ayahanda sang kekasih, ia belum berhasil menemukan “celah” untuk menjalin koneksi dengan sang calon mertua. Ujarnya, “Setiap beliau ke Jakarta dan pergi bareng, pokoknya beliau orangnya cuek banget. Kalau ketemu ya udah diem gitu, kayak nggak nganggap gua pacarnya si Elok.”

Rencana kepergian ke Padang pun disusun. Ojan memutuskan untuk pergi sendiri ke Padang. “Dulu saudara-saudaranya Elok pas ke sana itu cowoknya ditemenin sama temennya. Setelah gua pikir gua mending sendiri aja. Biar lebih seru.” Seluruh akomodasi sudah disediakan oleh sang Ayah, Ojan cukup datang membawa badan dan keberanian saja. Akhirnya berangkatlah ia ke Padang.

Setelah mulas-mulas karena deg-degan selama menunggu waktu pertemuan, tibalah saat yang dinanti. Pertemuan dilangsungkan di rumah sang ayah. Obrolan pun dimulai, awalnya masih basa-basi. Berlanjut terus, hingga datanglah waktunya bagi Ojan untuk menyatakan niat sebenarnya atas kedatangannya ke Padang.

“Om, saya sudah bilang sama Elok, sudah bilang ke ibunya juga. Saya niat untuk lebih serius sama Elok,” ujar Ojan saat itu. Dalam benaknya masih terpatri jelas sosok Ayah Elok yang misterius untuknya. Ia khawatir respon yang akan diberikan bukanlah apa yang ia harapkan. Tapi ketakutannya sirna saat Ayah Elok mulai bersuara.

“Ayah udah nungguin lama nih, dari kemarin Fauzan nggak dateng-dateng. Ini yang Ayah tungguin.” Dibukalah semua kartu tentang sikapnya pada Ojan selama ini. “Kalau kemarin Ayah perlakuannya begitu ke Fauzan, itu karena Ayah nggak mau berharap sama Fauzan.” Lanjut beliau, “Ayah nggak mau sakit hati kalau misalnya nanti nggak jadi. Makanya setiap pacar anak Ayah itu selalu nggak dianggep. Itu kenapa Ayah sama Fauzan biasa aja dulu. Nah, sekarang sudah beda.”

Beliau pun bercerita tentang apa yang dilihatnya dari Elok setiap ditanya soal Ojan. Bahwa anaknya selalu bercerita tentang Ojan dengan gembira. Bahwa anaknya selalu tersenyum saat disinggung soal pacarnya yang tak ganti-ganti dari dulu. Bahwa anaknya selalu menolak saat ditawarkan untuk pindah ke lain hati. “Itu semua karena Elok benar-benar suka sama kamu.”

Processed with VSCO with hb2 preset
“Gue sampe mules nungguin ketemuan. Alhamdulillah responnya baik.”

Ojan amat bersyukur saat disambut secara positif oleh Ayah Elok. Benar-benar positif, karena kedatangannya kesana seperti dipestakan, sekalipun sederhana. Namun satu hal yang sangat membuatnya bahagia adalah saat sang Ayah resmi menyambut Ojan masuk kedalam keluarganya.

“Mulai sekarang, kamu panggil Om jadi Ayah aja.”

BERSIAP

Pertemuan antara dua keluarga pun kemudian dilangsungkan pada 19 April 2016. Diputuskanlah bahwa pernikahan akan dilaksanakan pada 25 Maret 2017. Tanggal ini sendiri dipilih karena berdekatan dengan tanggal jadian mereka, serta merupakan rekomendasi tanggal baik dari pihak keluarga Ojan.

Proses persiapan mulai dijalani, dengan segala kendala yang kadang menghadang. Pernikahan adalah acara penyatuan dua keluarga, yang mana penyatuan keinginan masing-masingnya tak jarang jadi sukar. “Seringkali banyak maunya tapi duitnya nggak banyak,” celetuk Ojan.

Ojan bercerita bagaimana cara ia menghadapi kepelikan dalam berencana ini. “Gua jadiin diri gua jembatan aja. Gua dengerin kemauan semuanya pelan-pelan. Kadang kalau orangtua lagi banyak pengennya, gua cuma diem dulu aja. Kalo ngelawan juga gua nggak enak. Habis itu baru gua diskusi sama Elok.” Diskusi pun kadang tak berjalan mulus, karena Elok juga punya ide yang ingin dieksekusi.

“Nikah itu kan banyak was-wes-nya, ngomong dikit takutnya tersinggung,” lanjut Ojan. Ia mengaku seringkali pusing saat harus mengatasi perbedaan keinginan dari kedua pihak keluarga. Menurutnya, kunci utama untuk menyelesaikan itu semua adalah sabar. “Gua orangnya sabar aja sih. Cara diskusi tuh nggak harus ngotot, mending dengerin aja dulu. baru masuk pelan-pelan.” Satu sifat yang Elok akui benar-benar berkebalikan dengannya. “Gua berusaha banget supaya konsep gua bisa terlaksana. Yang bisa menahan gua adalah dananya aja. Selama dananya masih ada dan bisa ya gua mau yg seperti itu,” aku Elok.

Masa persiapan yang cukup lama, hampir satu tahun, membuat mereka jadi tidak terlalu terburu-buru. “Karena masih lama, kalau bosen atau capek jadi bisa istirahat dulu. Ada jeda berhenti,” cerita Elok yang juga mengaku kalau semenjak bulan puasa sampai saat ini (RED: waktu wawancara) mereka belum kembali melanjutkan persiapan. Tambah Ojan, “Iya, si Elok istirahatnya lama. Padahal kalo gua nyari ya tinggal nyari aja.”

PETUAH

Apa yang mereka nasihatkan bagi para pejuang pencari jodoh?

Berkaca pada perjalanannya bersama Elok, Ojan merasa bahwa rasa tak akan pernah bermula tanpa adanya pergerakan. “Misal lo suka sama orang, sekalipun baru sedikit, lo jalanin aja dulu. Lo nggak akan tahu apa yang lo pikirin kalo lo nggak deketin dia, kalau lo nggak samperin dia. Lo akan nyesel karena nggak tahu apa yang ada di isi hati si cewek. ” Tegasnya, “Intinya jalanin dulu aja berdua. Kalau nggak cocok nggak masalah. Itu juga sebuah ikhtiar lah.”

Elok setuju kalau rasa bermula karena ada inisiasinya. Tapi baginya, rasa yang ia temui kemudian lah yang benar-benar jadi penentu. “Nobody is perfect, tergantung prioritas (kriteria) lo masing-masing. Pasangan lo melanggar prioritas lo nggak? Kalo nggak melanggar dan cuma masalah kecil/besar, tapi bukan jadi hal yang prioritas lo untuk dilanggar, ya sudah jalanin aja sama-sama usaha.” Bagi Elok, kriteria utama yang ia cari dari calon pasangannya adalah setia dan dapat dipercaya. “Mau dia sering ketiduran atau bikin bete, itu bukan jadi alasan lo untuk menyerah. Intinya selama pasangan masih usaha, ya jangan nyerah. Sekalipun orang pacaran pasti ada waktunya pengen nyerah, jalanin aja. Akan ada masa lo merasa beruntung karena lo nggak menyerah,” pungkas Elok.

2
“Selalu ada momen yang menambah rasa sayang sama pasangan.”

Ojan pun mengamini. “Selalu ada momen-momen khusus. Waktu awal jadian lo ngerasa deg-degan, itu tanda kalau lo semakin ngerasa sayang. Waktu lo lamaran pasti juga ngerasa deg-degan, tapi entah ada energi darimana lo akan semakin ngerasa sayang lagi.” Tambahnya, “Lo pikir pacaran itu membosankan, itu bener. Tapi nanti akan ada momen yang membuat lo semakin sayang dan sayang lagi. Itulah kenapa gua sama Elok menunggu momen lain lagi, seperti lamaran keluarga, akad nikah, resepsi, dan bulan madu. Itu pasti akan bikin deg-degan, dan akan bikin kita semakin sayang lagi.”

(CATATAN KAKI: Saat ini keduanya masih sibuk mengurus persiapan pernikahan yang hari-H nya tinggal 6 bulan lagi. Hubungan yang dijalani sudah tidak jarak jauh lagi, satu hal yang benar-benar mereka syukuri. Doa selalu teriring agar segala persiapan yang mereka hadapi selalu diberikan kemudahan dan kelancaran.)

TEKS: Pandu Wicaksono / FOTO: Rizky Adryatma P.

Advertisements

Elok & Ojan (Bagian 1)

MUKADIMAH: Mengenal Elok, saja, tidaklah sama dengan mengenal Elok yang tengah bersama Ojan. Ada energi berbeda yang terpancar, yang bahkan tidak pernah saya rasakan selama kuliah bersama Elok. Energi itu terasa hangat. Sesuatu yang memang hanya ditunjukkan oleh pasangan dengan chemistry luar biasa. Ojan sendiri, saya baru sering bertemu dengannya setahun belakangan ini. Memang tidak banyak komunikasi yang terjadi, tapi beruntung dia adalah tipe orang yang senang bercerita dan berbagi kisah. Didukung dengan energi yang pasangan ini bawa, obrolan kami saat wawancara pun akhirnya banyak diselingi senyum dan tawa. Semoga anda bisa ikut merasakan apa yang saya rasa kala itu.

TERTANTANG

Pertemuan mereka terjadi di kampus BINUS, tahun 2008. Tak ada yang istimewa di pertemuan pertama mereka, terasa biasa saja kata mereka. Sama-sama masih mahasiswa baru, dulu.

“Dulu temen gue yang pertama ngasih tahu sama orang yang namanya Ojan. Gue cuma inget rambut dia masih yang rambut-rambut jamur gitu,” cerita Elok.

Namun, sebiasa-biasanya sebuah pertemuan, selalu ada kesan yang berbekas setelahnya. Ojan yang mulanya biasa pun, jadi mulai menaruh perhatian saat mendengar sebuah rumor menarik. “Denger-denger katanya ini cewek dikejar banyak orang. Ini yang bikin gue tertarik.”

Pergerakan pun mulai dilancarkan oleh Ojan. Komunikasi mulai coba dijalin, dulu pakainya masih chat lewat eBuddy. Padahal, ia tahu kalau saat itu yang sama-sama bergerak tak hanya dia. Banyak saingan.

Elok pun mengisahkan seperti apa jadinya saat itu. Katanya, “Jadi pas dia benerin deketin itu gue emang lagi deket sama orang. Terus dia tahu ada orang yang deketin gue. Soalnya diledek-ledekinnya di depan dia juga.” Tapi Ojan tak ambil pusing, sambil terus mengintai momen yang tepat.

Momen itu pun akhirnya tiba. Hubungan Elok dengan sang rival tak berlanjut. Masuklah Ojan, sembari mencoba membawa warna baru. Awalnya Elok tak memberi respon berlebih, lantaran ia memang menjaga ekspektasi. “Sebelumnya Ojan juga deket sama temen gue. Gue nggak mau kepedean. Jadi gue biasa aja.” Ia tak mau terlalu percaya diri dengan perhatian lebih yang ditunjukkan Ojan, takut akhirnya tak seperti yang diharap. Continue reading “Elok & Ojan (Bagian 1)”

Anggi & Yasir (Bagian 2 – Habis)

SEBELUMNYA: Belum sampai sehari resmi menjadi sepasang kekasih, ujian bernama hubungan jarak jauh sudah menghadang mereka. Komunikasi yang sulit sempat membuat hubungan keduanya merenggang. Kejenuhan akibat hubungan yang tak berkembang jadi penyebabnya. Kata putus bahkan sempat dilanturkan. Beruntung waktu jualah yang berhasil menyatukan mereka kembali.

PERTANYAAN

Tak semua ajakan menikah ditanyakan dengan penuh keromantisan. Pun momen yang dialami pasangan ini demikian. Lebih pada niatan tanpa rencana. Mungkin karena sudah saking cintanya.

Saat itu Februari 2015, Anggi sudah back for good ke Indonesia. Pertemuan makan siang dengan Yasir adalah kala pertama ajakan itu disampaikan. “Kamu mau nikah nggak?”, tanya Yasir waktu itu; memecah keheningan. “Kalau misalnya kita ke jenjang yang lebih serius, kamu mau nggak?”, ulangnya. Yasir mengaku pertanyaan itu benar-benar buah dari pikiran sekelebat yang melintas di kepalanya. “Tiba-tiba aja pengen nanya”, bilangnya.

“Hah? Ya mau.”, jawab Anggi. Seperti mengiyakan, tapi tak ada perbincangan lebih lanjut setelahnya. Yasir anggap itu sebuah pertanda keseriusan, yang menjawab pula kemantapan yang muncul tiba-tiba dalam hatinya. “Kalo orang merasa nikah itu butuh persiapan bla bla bla, kalo gue enggak tuh. Ngerasanya cuma kayak keyakinan aja. Tiba-tiba gue ngerasa harus nikahin dia.”, cerita Yasir.

Dan pada bulan Maret, pada ulang tahun Anggi: pertanyaan itu diulang. Jawaban Anggi hanya singkat, “Oke.”. Tapi langkah menuju jawaban itu, panjang.

Cerita diputar kembali ke bulan Februari, usai pertanyaan kala pertama diajukan. Saat itu Anggi bercerita pada orangtuanya tentang niat Yasir. “Kayaknya Yasir ngajak aku nikah deh, Ma.”, ceritanya. Orangtuanya heran, lantaran anaknya masih berkata “kayaknya”, seakan masih meragu. “Habis itu disuruh shalat istikharah. Kalau dari orangtua gue terserah.”, lanjut Anggi. Bertanyalah Anggi kepada Sang Maha Esa, memohon petunjuk. ”Gue jadi makin yakin. Pas ditanya, ya udah oke.”, yang kemudian disampaikanlah keyakinannya itu pada sang kekasih.

2016-10-09-07-42-50-1
“Tiba-tiba gue ngerasa harus nikahin dia.”

Tutur Yasir, orangtuanya sendiri sempat tidak percaya saat anaknya mengutarakan niatnya untuk menikah. Awalnya malah dianggap bercanda oleh sang ayah. Ibunya pun menyarankan Yasir untuk mencari kemantapan dengan berkomunikasi pada Tuhan. Perbanyak ibadah, shalat istikharah. Keyakinan pun akhirnya didapat. “Kata orang kan abis itu kaya dapet mimpi, tapi kita enggak sih. Cuma tiba-tiba PLEK! Langsung yakin. Ya udah nikah aja.”, ujarnya.

(Shalat istikharah adalah shalat yang dilaksanakan sebagai bentuk permohonan pada Allah SWT untuk diberikan petunjuk untuk memutuskan sesuatu dari beberapa pilihan yang dihadapinya)

Tantangan selanjutnya bagi Yasir: menyampaikan langsung niatnya pada orangtua Anggi. Continue reading “Anggi & Yasir (Bagian 2 – Habis)”

Anggi & Yasir (Bagian 1)

MUKADIMAH: Niatan untuk mengabadikan kisah Anggi dan Yasir sebetulnya tak sengaja muncul. Semua berawal dari saat saya pertama mempublikasikan soal proyek #rasabermula di media sosial. Yasir, yang rupanya senang akan sastra, menghubungi saya untuk menawarkan diri menjadi kontributor. Lantaran konsep #rasabermula yang mana tidak ada kontributor luar, terpaksa tawaran itu saya tolak. Namun saya gantikan dengan ajakan untuk menjadi narasumber kedua. Awalnya beliau menolak karena malu, tapi rupanya setelah berdiskusi dengan sang istri mereka pun setuju. Dan inilah hasilnya.  

SENGAJA

“Yasir duduk di belakang gue persis waktu upacara penerimaan mahasiswa baru ITB. Dia FITB, gue FSRD. Kayaknya dia udah sengaja ngincer deh.”, memori Anggi kembali ke tahun 2009. Di momen itulah mereka berdua pertama bertemu. Yasir pun membuka kartu, “Gue curang waktu itu. Jadi gue punya temen anak FSRD yang namanya Ayu, dan kebetulan dia duduk di sebelah Anggi pas upacara.”. Tambahnya, “Pas gue curi-curi pandang sama Anggi ternyata lucu, jadilah gue minta tolong dikenalin.”. Jadilah Ayu sebagai perantara perkenalan mereka berdua.

Anggi mengaku lupa seperti apa momen saat ia berkenalan dengan Yasir. “Nggak inget sama sekali. Gue cuma inget ada cowok yang duduk di belakang gue dan kenal sama Ayu.”, bilangnya. Kalau menurut Yasir, perkenalan mereka terjadi di Kubus (red: monumen di depan kampus ITB). Saking lupanya, Anggi pun memilih percaya saja pada cerita sang suami. “Dari cerita dia sih begitu. Cuma bisa jadi pura-pura. Tapi ya udah lah, udah nikah ini.”, kata Anggi.

NORAK

Cerita awal masa pendekatan mereka sebetulnya miris. Bila dipandang dari kacamata Yasir.

Processed with VSCO with p4 preset
“Gue waktu itu katro pisan..”

Pasca berkenalan di awal masuk kuliah, Yasir pun memutuskan untuk mengejar cinta Anggi. Masalah utama buat Yasir, “Gue waktu itu katro pisan, karena gue baru keluar dari sekolah asrama pas SMA.”. Saking “katro”-nya, sampai-sampai ia ditolak mentah-mentah oleh Anggi karena dianggap norak. “Dulu gue tolak memang bukan karena fisiknya, tapi karena norak banget ngedeketinnya.”, ungkap Anggi. Ia pun mencontohkan bagaimana awalnya Yasir mencoba memulai obrolan dengannya via BBM. Continue reading “Anggi & Yasir (Bagian 1)”

Sheila & Bayu (Bagian 2 – Habis)

SEBELUMNYA: Setelah lulus, Sheila kemudian diterima untuk bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta. Mestinya jarak sudah bukan jadi jurang pemisah lagi. Tapi rupanya hubungan jarak jauh mereka masih belum berakhir.

PERUBAHAN RENCANA

Saat itu akhir tahun 2014. Atas beberapa pertimbangan, Bayu memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dan memilih untuk melanjutkan studi. Ia kemudian kembali ke Bandung untuk mulai mempersiapkan diri demi mengejar impiannya tersebut, salah satunya fokus mengejar beasiswa. Dimulailah kembali sebuah hubungan jarak jauh, di antara kota yang sama namun dengan posisi yang terbalik.

Keputusan untuk melanjutkan studi tentu berdampak pada banyak hal dalam hubungan mereka, namun yang paling utama adalah soal rencana menikah. Sebagai pasangan yang sudah sama-sama yakin, tentu pernikahan sudah masuk sebagai sebuah rencana besar yang ingin diwujudkan. “Sebenernya dulu udah ada rencana, tapi masih ngawang. Kalo seperti ini kita berlanjut, mau kapan sih? Waktu itu rencananya saat usia kami 26 dan 25.”, ujar Bayu. Lanjutnya, “Tapi kemudian karena ada rencana studi, sudah ketauan juga bakal ada jeda setahun. Jadi dulu rencana dibawa ke tahap seriusnya sepulang dari studi.”. Di titik ini Bayu sempat mengalami kebingungan untuk melakukan penyusunan ulang rencana. Beruntunglah ia mendapatkan petunjuk lewat orangtuanya.

“Ibu saya menanyakan kenapa saya tidak menikah lebih dulu? Saat itu pertimbangan saya masih banyak, seperti belum mapan, ekonomi belum stabil.”, ungkap Bayu. Sebuah kegelisahan yang wajar dirasakan oleh manusia yang baru memasuki masa dewasa. “Tapi kemudian prinsipnya dibalikin sama orangtua. Menikahlah, maka akan dimapankan dan distabilkan ekonominya.”, tuturnya melanjutkan. Dan pada momen itulah, Bayu kembali yakin akan kemampuan dirinya.

“Saat itu saya berpikir bukan ke depan, tapi untuk saat ini. Masa depan tidak akan pernah tersentuh dengan diri kita yang sekarang. Saya menanyakan ke diri saya yang sekarang dan merasa sanggup secara mental untuk menikahi Sheila. Saya tidak ingin terlalu lama LDR dengan status yang masih gantung.”, kata Bayu. Tambahnya, “Saya ingin tumbuh dan berkembang bersama dari kondisi yang belum mapan, sehingga kita bisa menghargai satu sama lain. Menikah dan kemudian tumbuh bersama pasti berbeda dengan menikah dalam keadaan sudah mapan. Justru seperti itu malah si calon tidak melihat bagaimana perjuangannya hingga menjadi mapan, namun kalo mapan bersama kita akan saling tahu dan saling menopang.”. Dari sana muncullah sebuah nazar untuk menikahi sang kekasih bila ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi. Continue reading “Sheila & Bayu (Bagian 2 – Habis)”

Sheila & Bayu (Bagian 1)

MUKADIMAH: Jakarta sedang cukup bersahabat hari itu. Cuaca cerah, jalanan pun tak macet berlebihan. Bak sengaja memberi kesempatan bagi saya untuk bisa segera bersua dengan Bayu, sobat saya sedari masa kuliah di ITB. Sudah cukup lama kami tak bertemu, lantaran setahun belakangan ia merantau ke Inggris untuk melanjutkan studi. Saat mendengar kabar bahwa ia baru saja pulang ke Indonesia, diputuskanlah agar kami bisa bertemu dan bertukar kabar. Sengaja saya minta dia untuk mengajak pula Sheila, istrinya, agar bisa turut serta untuk berbagi cerita. Saya akan jadikan kisah mereka sebagai tanda resmi mulainya proyek #rasabermula, pun sebagai hadiah kepulangan bagi sang sahabat.

BASKET

“Saya baru ngeh waktu Sheila ikutan basket himpunan. Mulai merhatiin karena baru tahu Sheila lumayan jago basketnya.”, kata Bayu membuka ceritanya sore itu. Kuliah di jurusan yang sama, namun beda angkatan, membikin pertemuan mereka hanya banyak terjadi di klub basket himpunan. Sheila sendiri mengaku kalau awalnya mengenal Bayu karena sosoknya yang terlihat cukup menonjol sebagai aktivis kampus. “Sempat juga menaruh sedikit  perhatian karena Bayu dianggap sebagai salah satu senior favorit semasa OSPEK. Tapi baru ada perhatian khusus saat pernah ada kelas bareng di satu mata kuliah gara-gara kelasnya digabung.”, ujar Sheila sambil tersenyum.

Yang namanya perasaan memang tak bisa dibohongi. Lama-kelamaan ada sesuatu yang mulai menghinggapi hati Bayu. Saat itu sedang masanya kegiatan wisuda di kampus. “Di situ saya bisa melihat sisi lainnya Sheila dan karenanya mulai jadi penasaran.”, ungkap Bayu. Upaya membuka jalan komunikasi pun mulai dilancarkan, iseng-iseng ia coba meng-SMS Sheila. Apa dinyana, responnya tak semulus yang dikira. “Awalnya Sheila nggak ngeh karena yang namanya Bayu di himpunan ada banyak, jadi harus dijelasin dulu. Terus coba ngajak jalan berapa kali tapi Sheila nggak bisa terus karena lagi sibuk di unit.”, kata Bayu sambil mengaku bahwa ia sempat merasa putus asa karena usahanya mengajak Sheila tak kunjung berhasil. Putus asa itu pun berakhir keputusan untuk sedikit menjaga jarak dari sang target. Walaupun ia juga mengaku masih menunggu momen yang tepat untuk kembali melancarkan pergerakan.

KEMAH KERJA

“Bayu itu terhitung pasif. Kadang ada kabarnya kadang hilang.”, cerita Sheila saat mengenang awal-awal masa pendekatan. Ada saat dimana ia merasa sebaiknya Bayu dibiarkan saja berlalu, tapi batal karena yang ditunggu muncul kembali. Momen perubahan sikap dirasakan Sheila saat ia harus mengikuti kegiatan Kemah Kerja yang mengharuskannya untuk tinggal di daerah tanpa sinyal, yang otomatis membuat komunikasi bisa terputus sama sekali selama dua minggu. Sheila mulai merasakan ada yang berbeda dari Bayu. “Baru mulai ngerasa Bayu benar-benar melakukan pendekatan intens itu setelah Kemah Kerja selesai. Kerasa banget ada pergerakan tiba-tiba.”. Continue reading “Sheila & Bayu (Bagian 1)”